Archive for June, 2006

Sebuah Akhir

Thursday, June 29th, 2006

Terdapat suatu kalimat yang dikutip dari game Final Fantasy IX, yang jika diterjemahkan, akan berbunyi, “yang paling pasti mengenai masa depan, adalah ketidak pastiaannya”. Kalimat tersebut ada benarnya juga, tidak ada seorangpun yang mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi dimasa depan. Namun pada jalan hidup setiap manusia, seberapa tidak pastinya masa depan, pasti kita akan mengalami yang namanya kematian.

Kematian, suatu misteri dalam hidup, namun juga merupakan suatu kepastian. Cepat atau lambat, kematian pasti datang, dan jika telah datang, baik tua ataupun muda, baik atau jahat, laki – laki atau perempuan, kaya atau miskin, tidak akan luput darinya. Jika telah datang, kematian tidak akan perduli apakah orang yang dijemputnya siap atau tidak menyonsong kematiannya, tidak ada toleransi, tidak ada keterlambatan, jika saatnya telah tiba. Dan bila itu terjadi, bagi manusia yang didatangi, berakhirlah semua hal yang berhubungan dengan dunia ini bagi dia, kegiatan - kegiatannya, rencana – rencananya, hartanya, kebahagiannya, kesedihannya, kebanggaannya, mimpi – mimpi serta harapannya, dll.

Apa yang terbentang dihadapan manusia setelah kematian adalah misteri juga, secara tidak seorangpun yang mengetahuinya dengan pasti. Oleh karena itu, dan ditambah dengan alasan – alasan lain yang mungkin lebih kuat, banyak manusia yang memiliki ketakutan terhadap kematian.

Mungkin perihal ketakutan dapat dianalogikan seperti ketakutan saat akan menunggu hasil SPMB, yang mana setiap siswa merasakan ketidakpastian pada dirinya apakah akan diterima ditempat yang diinginkan atau tidak. Namun tentunya tidak setiap siswa gelisah, ada beberapa siswa yang dapat dengan tenang menunggu, biasanya siwa – siswa yang demikian itu adalah siswa yang telah melakukan persiapan dengan sungguh - sungguh dan mengerjakan dengan sebaik - baiknya.

Begitu juga dengan perihal kematian, terdapat manusia – manusia yang tidak takut jika didatanginya karena dia telah melakukan persiapan menyongsongnya, yang tentunya persiapan menghadapi kematian jauh lebih sulit dibanding analogi diatas karena tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan datangnya kematian pada dirinya.

Terkadang dalam suatu kondisi yang santai, mungkin terlintas pertanyaan, “apakah hidup untuk uang atau uang untuk hidup?”, “apakah hidup untuk makan atau makan untuk hidup?”. Bila terdapat pertanyaan seperti itu, bisa juga kalimatnya diubah menjadi: “apakah hidup untuk mati atau mati untuk hidup?” bila dilihat dari dua pertanyaan sebelumnya, tentu lebih baik pilihan “uang untuk hidup” dan “makan untuk hidup”, akan tetapi, apakah pilihan “mati untuk hidup” lebih baik daripada “hidup untuk mati”? hal ini terserah pandangan sahabat masing – masing, asalkan sahabat mempunyai pendapat yang sudah sahabat pikirkan dengan matang. Dan semoga kita semua sudah siap jika tiba waktunya kematian menghampiri.

below

Thursday, June 29th, 2006

Smile of The Stars  (just another ordinary romantic poet)

Maybe everyone think that you are pretty

but I don’t know about that

Maybe every guy want you to be their lover

but I’m not sure about that

still, there is one thing that I know for sure

It’s about your smile, and it worth a countless star

Hidup dan Perbedaan

Wednesday, June 28th, 2006

Hidup, suatu kata yang apabila ditanyakan kepada saya apakah artinya, saya tidak bisa menjawab dengan pasti. namun tetap terlintas beberapa kata di benak saya, yang pertama adalah perjuangan

hidup adalah perjuangan, karena selagi kita hidup, kita akan mendapati never ending problem yang menerpa diri kita, dan disinilah sisi baik dari  keinginan kita yang tidak pernah puas menampakkan diri, yaitu membuat kita untuk berjuang menyelesaikannya

kemudian kalimat kedua adalah pembelajaran. kehidupan adalah unlimited pool of knowledge. tidak ada hari yang sama yang kita lewati, dan dari hari ke hari kita mendapati kejadian - kejadian yang berbeda yang tentunya bila diambil hikmahnya, akan berbeda - beda pula, terkadang saling bertentangan, terkadang saling mendukung.

kemudian yang terlintas lagi adalah ibadah. mungkin bagi sebagian besar orang, inilah yang mereka pegang, hidup kita adalah milik sang Maha Pencipta, sehingga kita harus mengisinya dengan kegiatan - kegiatan yang sesuai dengan perintah-Nya dan jauh dari larangan-Nya.

terlepas dari apa arti hidup yang telah saya jabarkan diatas, tentunya masih banyak pengertian lainnya menurut sahabat - sahabat sekalian, baik yang sahabat pegang atau hanya sahabat ketahui. namun sepengetahuan saya, tidak ada mekanisme yang dapat menilai apakah arti hidup yang kita pegang salah atau benar. apakah ini berarti tidak ada arti hidup benar atau yang salah? itupun saya tidak tahu, hal ini bisa diandaikan sebagai "abu-abu"-nya dari "abu-abu", padahal "abu-abu" sendiri sudah bukan "hitam" atau "putih".

ada kalimat yang pernah saya dengar, "kejamlah pada diri sendiri, maka kehidupan akan lunak kepada anda", suatu kalimat yang, jujur saja, menjadi salah satu pegangan saya saat ini. dan tentunya sahabat - sahabat memiliki pegangan masing - masing yang sahabat percayai.

pengertian kita semua akan hidup berbeda, pegangan kita dalam hidup juga berbeda, akan tetapi, kita semua hidup, kita semua menjalani kehidupan kita. oleh karena itu, sebenarnya kita semua sama, kitalah manusia. saya berharap semoga kehidupan kita semua bukanlah kehidupan yang sia -sia, kehidupan yang bila kita telah terlepas darinya, tidak ada penyesalan dari keterpisahan tersebut. sehingga kita bisa menyongsong apa yang ada dihadapan kita setelah hidup dengan pasti

Melewati dan Terlewati

Wednesday, June 21st, 2006

Ingin tak ingin, suka tak suka, bisa tak bisa, kita sebagai manusia terus melangkah pada suatu jalan yang disebut waktu, dan seiring dengan itu, apa yang kita miliki memudar dan apa yang tidak kita miliki datang. bahkan apa apa yang kita percayai saat ini bisa berubah.

Terkadang banyak sekali hal - hal yang kurang mengenakkan terjadi di masa lalu kita, dan terkadang lagi, kita mengharapkan bisa kembali ke masa tersebut dan merubahnya. namun ada juga, sesosok yang tidak menyesali masa lalunya, dan terus melangkah kedepan dengan pasti.

adakalanya juga, kita yang ingin sekali bisa cepat - cepat sampai pada suatu tempat jauh didepan dimana kita berdiri pada jalan waktu, biasanya keinginan ini muncul ketika kita sedang dalam masalah, karena ingin masalah tersebut selesai.

tapi kenyataannya, kita tetap berjalan selangkah demi selangkah kedepan, tidak lebih, dan tidak berganti arah. disanalah keindahannya, kita merangkai hidup kita perlahan demi perlahan, satu demi satu, menjadi "sesuatu" yang memang milik kita sepenuhnya, ya, langkah - langkah dalam hidup dan perbuatan - perbuatan kita adalah murni milik kita.

semoga kita semua bisa merangkainya dengan baik, dan ketika kita tiba pada tempat yang biasa disebut kematian, kita dapat melihat dengan tersenyum tulus langkah - langkah yang kita ambil.

life.. isn’t it unexpectedly Wonderfull?

Terlintas suatu lagu

Monday, June 19th, 2006

entah kenapa, selagi dalam perjalanan menuju tempat beraktivitas, saya teringat akan suatu lagu. lagu dari masa lalu yang menceritakan tentang jatuh cinta (umum sekali ya?). liriknya menurut saya sangat lucu;

dari manakah datang - datangnya lintah?

darilah sawah - sawah turun ke kali

dari manakah datang datangnya cinta?

dari mata ke hati

orang bilang jatuh cinta itu resah

orang bilang jatuh cinta itu gelisah

tapi jatuh cinta tak pernah berubah

ku terjatuh cinta

o, jatuh cinta, kapan saja, tetap berjuta juta rasanya

rasa gelisah, aduh kang/neng itu mah biasa

not that I am falling in love right now, akan tetapi lagu ini terngiang di kepala selama perjalanan di pagi hari.ah, life, isn’t it unpredictably wonderfull?

Puisi Untuk Bidadari

Friday, June 16th, 2006

Sebenarnya, aku tidak sedang menulis puisi, hanya menulis curahan hati, karena aku bertemu dengan bidadari, bidadari yang memiliki kecantikan yang mampu menggugah semua nilai - nilai manusiawi, yang mana pada dirinya berpadu dengan sempurna antara cantik bagai pelangi dan manis bagai awan dilangit tinggi.

Aku tidak pernah menyangsikan keagungan Allah SWT yang mencipta diri ini, bagiku, keindahan alun - alun surya kencana, danau toba, sempuh laguna atau bahkan puncak Rinjani sudah mengguncang insani, namun sekali lagi aku dibuat-Nya terpana oleh ke-Maha-Pencipta-an-Nya dengan dipertemukan dengan sang Bidadari.

Ya Allah, sampai kapankah Engkau memukauku dengan dengan ciptaan - ciptaan-Mu yang indah melebihi batas duniawi, dan bagaimanakah dengan keindahan surgawi yang Engkau janjikan pada orang yang berpasrah diri*?

Meskipun bidadari tersebut adalah berada pada takdir yang berbeda dengan yang kujalani…. namun dengan memandangnya saja, kurasakan kedamaian yang sudah lama tidak hadir di dalam hati.