Archive for December, 2006

Pelajaran dari suatu Pudding

Friday, December 15th, 2006

Pada suatu hari jumat, saya bersama teman-teman saya pergi ke suatu tempat untuk makan malam. Di tempat itu, saya memesan caramel pudding, satu-satunya menu pudding di tempat itu. namun saya kurang beruntung, puddingnya sedang kosong.

Akan tetapi, saya tidak menyerah. saya kemudian menghubungi "teman seperjuangan" saya untuk menemani saya mencari pudding. Dia bersedia menemani saya, dan kami berjanji bertemu jam setengah 11 malam.

Setelah bertemu, saya mengurungkan niat saya untuk memintanya menemani saya, karena saya pikir alasannya sangat tidak penting. Setelah saya menanyakan dimana tempat yang menyediakan pudding, sayapun pergi sendiri untuk mencarinya.

menurut saya, sungguh suatu hal yang aneh dan tidak penting, hampir tengah malam berada di jalanan hanya untuk alasan: memakan pudding. bukankah lebih mudah untuk mencari keesokan harinya? banyak toko-toko yang sudah tutup malam itu. jika saya mencari siang hari, tentunya akan mudah didapatkan.

tetapi tetap saja saya terus mencari, terus berkeliling, hanya untuk memakan pudding malam itu juga.

U know what? sewaktu saya melewati jalan dago, saya melihat toko, yang seharusnya sudah tutup, buka hingga jam 12 malam. saya ingat teman saya berkata bahwa toko itu menjual pudding. saya parkirkan motor saya, saya membeli pudding di toko tersebut, dan saya makan saat itu juga..

where there is a will, there is a way. saya mempelajarinya melalui peristiwa yang unik… dan mungkin setiap saya memakan pudding, saya akan teringat bahwasanya dimana ada kemauan, disana ada jalan.

Urusan

Monday, December 11th, 2006

urusan, suatu kata yang seringkali diucapkan, biasanya merepresentasikan suatu hal yang harus dilakukan oleh seseorang. Entah seseorang itu merasa urusannya adalah kewajiban, keharusan, ketidakharusan, kesenangan atau apapun, yang jelas seseorang itu ingin urusannya terselesaikan.

dalam rangka menyelesaikannya itu, seringkali seseorang mendalami, menyelami dan menghayati urusan yang sedang ia kerjakan. Dengan semampunya ia kerjakan, dengan sekuat tenaga ia usahakan, dan yang ia inginkan bukan hanya terselesaikannya urusan tersebut, akan tetapi proses penyelesaiannya yang dilakukan dengan benar. seseorang yang seperti itu,  bisa dikatakan seseorang yang idealis dilihat dari suatu sudut pandang.

ada juga seseorang yang membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan urusannya. mungkin dia tidak mampu atau tidak mau untuk menyelesaikannya sendirian. yang manapun dari keduanya, seseorang tersebut sebenarnya adalah orang yang mengerti hakikat makhluk sosial, meskipun terkadang terlihat tidak baik.

ada juga seseorang yang selalu melemparkan urusannya untuk dikerjakan orang lain. sekilas, seseorang ini tampak seperti orang yang malas, namun anehnya, justru seseorang seperti inilah yang paling banyak, bahkan terbit suatu buku legendaris oleh adam smith yang membicarakan bagaimana cara melempar suatu urusan yang jitu agar dapat memajukan suatu negara. bisa dibilang, seseorang inilah yang membangun peradaban, memajukan umat manusia.

urusan, entah apapun itu, akan berhubungan dengan minimal 1 orang, yaitu seseorang yang memang memiliki urusan tersebut. tentunya yang berhubungan dengan orang lain lebih banyak daripada yang tidak, sehingga terkadang, bagaimana proses pelaksanaannya, yang penting adalah hasilnya yang baik.

dan yang paling pasti, urusan tidak akan pernah berakhir. setidaknya selama seseorang itu masih hidup. sesulit apapun urusan yang sedang dilakukan, seseorang tetap mendapat kabar baik, yaitu kabar bahwasanya ia masih hidup.