Pelajaran dari suatu Pudding
Pada suatu hari jumat, saya bersama teman-teman saya pergi ke suatu tempat untuk makan malam. Di tempat itu, saya memesan caramel pudding, satu-satunya menu pudding di tempat itu. namun saya kurang beruntung, puddingnya sedang kosong.
Akan tetapi, saya tidak menyerah. saya kemudian menghubungi "teman seperjuangan" saya untuk menemani saya mencari pudding. Dia bersedia menemani saya, dan kami berjanji bertemu jam setengah 11 malam.
Setelah bertemu, saya mengurungkan niat saya untuk memintanya menemani saya, karena saya pikir alasannya sangat tidak penting. Setelah saya menanyakan dimana tempat yang menyediakan pudding, sayapun pergi sendiri untuk mencarinya.
menurut saya, sungguh suatu hal yang aneh dan tidak penting, hampir tengah malam berada di jalanan hanya untuk alasan: memakan pudding. bukankah lebih mudah untuk mencari keesokan harinya? banyak toko-toko yang sudah tutup malam itu. jika saya mencari siang hari, tentunya akan mudah didapatkan.
tetapi tetap saja saya terus mencari, terus berkeliling, hanya untuk memakan pudding malam itu juga.
U know what? sewaktu saya melewati jalan dago, saya melihat toko, yang seharusnya sudah tutup, buka hingga jam 12 malam. saya ingat teman saya berkata bahwa toko itu menjual pudding. saya parkirkan motor saya, saya membeli pudding di toko tersebut, dan saya makan saat itu juga..
where there is a will, there is a way. saya mempelajarinya melalui peristiwa yang unik… dan mungkin setiap saya memakan pudding, saya akan teringat bahwasanya dimana ada kemauan, disana ada jalan.
December 16th, 2006 at 4:43 pm
Hm… cerita yg menarik…
January 5th, 2007 at 10:53 pm
wah… sama kayak gw juga lo.. kalo ada kemauan pasti dijabanin, gak peduli siang ato malem, susah ato gampang, capek ato gak, yang penting harus dapet… hohoho…
January 25th, 2007 at 6:13 pm
Hm.. benarkah? baru aja kemarin gw berpikir bahwa tidak juga. Sampai gw menyimpulkan:
“where there is a will, there is a way, but if only the will is realistic”
Hehe.. belepotan ya bahasa inggris gw..